Saturday, August 30, 2014

[Review] Allegiant (Divergent #3)

Image Credit

Menyelesaikan Allegiant menurutku adalah sebuah pencapaian, mengingat sudah cukup lama aku ga baca buku non komik dan non anak-anak, ditambah Allegiant adalah bagian dari serial.

Divergent (sebagai buku pertama dari seri ini) sempat membuatku sedikit skeptis dengan dunia dystopian yang didesain untuk pembaca muda. Dunia yang punya lima faction tanpa penjelasan dan latar belakang meyakinkan membuatku menutup mata untuk baca kelanjutannya. Namun setelah menonton versi filmnya, rasa penasaranku kembali tergelitik. Jadilah aku membaca lanjutan Divergent, Insurgent (yang reviewnya mungkin ga akan kubuat). Ternyata Insurgent membayar rasa penasaranku dengan harga yang pantas. 

Menurutku Insurgent jauh lebih bagus dan lebih believable. Insurgent juga mampu membuatku terus membaca hingga akhir, bahkan membuatku teryakinkan untuk membaca serinya yang terakhir, Allegiant.
Membaca Allegiant membuatku berpikir, apakah ternyata selama ini aku hanya buang2 waktu???? Ebook sepanjang 500sekian halaman itu seakan mementahkan semua teori dan logika cerita yang terbangun dari awal Divergent. Roth sibuk memperkenalkan konflik baru di atas konflik lama yang bahkan belum selesai. Kalau diibaratkan makanan, apa yang disajikan chef saat dessert menghancurkan kenikmatan appetizer dan main course.

Yang kelihatan justru seperti tambalan di sana-sini untuk mendukung ide yang sebenarnya di awal pondasinya sudah tidak stabil. Saat baca Allegiant, aku sibuk mikir, " Wah ni pengarang main cocoklogi banget". Cuma agar ceritanya terlihat kompleks dan nyambung. Well, its not. Allegiant ga menjual apapun selain ketidakkonsistenan.

Dan karakter tokoh utamalah yang paling nyebelin. Aku ga masalah dengan Tris yang kayaknya punya indra ke enam karena semua feelingnya bener, tapi justru Tobiaslah yang menurutku mengalami degradasi. Rasanya ga percaya Tobias bener-bener bertingkah ga masuk akal di buku ini. Apa? Roth pengen membuat Tobias just like human who sometime makes mistakes? Kalau emang alesannya ini, well Roth ga pinter membuat karakternya cukup dewasa untuk bersikap masuk akal.

Endingnya? Ketebaklah dari awal, kenapa si Roth tiba2 harus pakai 2 POV sementara di dua buku sebelumnya cuma 1 POV? She has a point. Lagipula, keinginan penulis untuk membuat ending yang shocking mungkin bisa jadi satu alasan. But I am not buying it.

Dan satu lagi, caranya mengakhiri segala macam hiruk pikuk cuma dengan segitu doang? Aduh. Menyakitkan.

1 sapi!
Read More

Monday, June 16, 2014

My Reading Life Nowadays.



Image Credit 
Akhir-akhir ini (baca: setelah melahirkan dan punya anak) gairah membacaku menurun drastis.

Boleh ya curhat dikit. Dulu aktivitas baca biasa dilakukan pada saat perjalanan menuju atau pulang kantor, tapi sekarang commute to work means I have to read for ODOJ and also collects recipes for my little one. Karena si kecil sekarang udah MPASI, which is aku yang biasanya sama sekali ga pernah masak harus pinter-pinter cari resep di sana sini biar bisa masak buat si kecil.

Kedua, dulu aku masih punya waktu baca sebelum tidur. Sekarang? Di samping bantal memang masih tertumpuk buku2 untuk dibaca, tapi bukan lagi buku bacaanku, melainkan buku bacaan untuk si kecil (yang lebih banyak dia gigiti daripada dia lihat gambarnya yang warna warni). Setelah si kecil tidur, waktunya untuk masak dan membereskan botol-botol perahan ASI hari itu. Selepasnya? Duh, sudah lelah sekali.. untuk baca ebook aja mata udah lelah banget, alhasil sebelum tidur cuma sempat main game bentar atau 9gag. :D

Weekend? Duh jangan ditanya deh. Si bocah adanya nempel terus sama emaknya.

Akibatnya, aku semakin jarang baca dan akhirnya mood membacaku jadi turun drastis. Passionku terhadap buku masih sama besarnya seperti dulu, tapi ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa aku pada akhirnya ga bisa menemukan waktu untuk melakukannya, aku udah males duluan jadinya. :(

Not that I am complaining. It is so great for having a baby though.

Jadi sekarang, aku membaca buku saat pumping ASI di kantor. Karena kedua tangan occupied, aku akhirnya memanfaatkan aplikasi moonreader yang ada fitur scroll otomatis jadi aku ga perlu ngebolak balik halaman. Tinggal pasang hape di atas meja, sudah siap baca sambil pumping. Kedua, aku baca buku saat (maaf) di kamar mandi. Well, masuk akal kan ya. Kayaknya di kamar mandilah aku punya me-time kalo di rumah. Lumayan sih, 5 menit dapet beberapa halaman. Dan yang ketiga, aku harus pinter-pinter milih buku. Bukunya harus yang udah menarik perhatian paling engga dari 10 halaman pertama. Lebih dari itu, kalau ngga menarik, tinggal. Aku ga mau ngabisin waktu yang udah terbatas dengan baca buku yang biasa aja.

Mungkin akan ada yang komentar, 'Yaelah, gue aja lebih sibuk dari situ tapi masih sempet tuh baca buku. Harus pinter-pinter bagi waktu dong'. Well, It will be great if you can share your tips? :D

Read More

Friday, April 25, 2014

[Review] Before It's Too Late

Judul: Before It's Too Late
Penulis: Luqman Hakim
Penerbit: Cakrawala
Tebal: 164 halaman
Cetakan I, 2014

Hai, hai.
Akhirnya saya mereview lagi! Yay! Ada yang rindu dengan postingan di blog ini? #pede

Baiklah, kali ini saya akan mencoba mereview sebuah novel romantis yang sepertinya sudah lama tidak menjadi santapaan saya. Dan sekalinya disantap, saya merasa seperti orang yang baru aja makan sate kambing setelah puasa makan sate selama 9 bulan (pengalaman pribadi waktu hamil)!

Begini ceritanya. Tersebutlah Ren yang baru saja ditinggal mati oleh kekasihnya Vivi. Di saat ia ingin move on, kenalanlah ia dengan murid lesnya, Rei. (nama mereka mirip ya). Dan singkat cerita mereka akhirnya berhubungan tanpa status alias HTSan karena si Ren ini belum berani mengungkapkan perasaannya pada Rei. Merasa digantung, akhirnya Rei  menjalin hubungan dengan seniornya di kampus, Afat. Ternyata kedekatan mereka berdua diketahui oleh Ren, hingga ia merasa cemburu. Apakah Ren akhirnya akan menyampaikan perasaannya kepada Rei, atau justru move on ke orang lain? Baca dulu bukunya!

Kesan saya setelah membaca buku ringan dan bercover cantik ini adalah, lega. Sebagian karena memang ceritanya yang singkat, sebagian lagi karena senang akhirnya lika liku Ren-Rei-Afat dan beberapa tokoh lainnya berakhir. Menurut saya, cerita ini memiliki potensi lebih besar seandainya bisa dituangkan ke buku yang halamannya lebih banyak. Rasanya 164 halaman buku ini justru menjadi kurungan bagi ceritanya, begitu padat dan berontak ingin keluar dari kerangkengnya. Begitu banyak yang ingin dituangkan penulis dengan rentang waktu yang lumayan panjang (SMA-kuliah-pascakuliah mungkin sekitar 7 tahun) membuatnya tidak bisa bebas bergerak, alhasil saya merasa agak kesulitan mengikuti logika cerita.

Contohnya, penulis bertutur bahwa satu tahun sudah berlalu ketika saya menginjak di halaman 40. Rasanya ada lompatan waktu yang sangat panjang dan detail yang penting terlewat untuk diceritakan. Seperti bahwa Ren sudah lulus dari kuliah (sepertinya) dan sekarang berprofesi menjadi guru di Jakarta. Dan bahwa Rei tidak disebutkan bahwa ia melanjutkan kuliah di Solo. Kemudian ketika saya kebingungan bahwa dalam rentang satu minggu diceritakan bahwa Rei sudah bolak balik Solo-Bandung (ya mungkin aja sih, tapi kerasa kagok karena di saat yang sama penulis sedang mendeskripsikan adegan Ren dan pacarnya secara slow motion).

Kekurangan lain dari "kurungan" halaman ini adalah kurangnya eksplorasi terhadap perasaan masing-masing tokoh. Saya ngga bisa relate dengan perasaan galaunya Rei (padahal saya tukang galau lho..). Saya juga ga bisa jengkel pada keplin-planan Ren padahal seharusnya saya jengkel setengah mati sama laki-laki yang ga bisa tegas seperti itu. Dan karena para tokohnya jadi tidak bisa bergerak bebas untuk mengeluarkan perasaannya, hasilnya saya jadi geleng-geleng kepala dengan endingnya.

Lainnya mungkin hanya masalah teknis seperti kesalahan ketik di halaman 35, harusnya Rei berteriak memanggil "Ren".. bukannya "Tomi". Kemudian halaman 100, seharusnya hari Rei yang teriris-iris, bukan Nisa. Dan di halaman 110 seharusnya "Ia pun mengiyakan ajakan Rei.." bukannya ajakan Nisa.

Untuk sebuah debut, menurut saya buku ini tak buruk. Apalagi tag line nya,"Tidak seperti buntang, cinta tak mungkin jatuh dari langit" menurutku bagus untuk memotivasi para jomblo untuk berusaha "memanah" bintangnya segera, bukan hanya menunggu "jodoh" turun dari langit. Hehehe. Semoga novel kedua segera terbit, Luqman!


Read More

Monday, January 20, 2014

Camar biru

Udah lupa kayaknya, kapan terakhir baca novel romantis. Lebih tepatnya sih karena udah lama ngga baca buku *uhuk* dan sekalinya baca buku langsung yang model-model begini. Alhasil, cepet banget bacanya. Karena penasaran iya, karena bukunya bagus juga iya.

3 bintang itu....
1...karena ternyata aku kangen sama tokoh-tokoh macam Nina dan Adith gitu. Bukannya mereka tokoh favorit ya, tp rasanya kayak ketemu temen jaman SMP yang sebenernya dulu juga ga akrab-akrab banget tapi kamu tahu bahwa mereka orang yang cukup keren yang asyik dan nggak bikin ilfil. Nina sama Adith ini sebenarnya menurutku tipikal tokoh yang bakal banyak muncul di novel-novel karena karakter mereka yang lovable. Nina kan orangnya berantakan tp tetep cantik, sedangkan Adith kan orangnya tipe yang suka melindungi cewek yang disukainya. Dan yang nambah nilai plus sebenernya karena Nilam menggambarkan Adith yang biasa aja. Nggak yang cakep banget, nggak yang sempurna banget, ngga terlalu pinter atau charming juga.

2....karena ceritanya ngalir meskipun storyline nya udah agak ketebak di awal-awal cerita. Tapi ya tetep aja tuh kalimat-kalimatnya kayaknya ngiket aku sbg pembacanya untuk lanjut terus baca buku sampai selesai...

3....karena ngga seperti buku sejenis yg kebanyakan "membolehkan" hubungan badan sebelum menikah, di buku ini sama sekali ga ada yang begituan. (Walaupun ternyata ada alesan dibalik itu). Sayangnya tokoh-tokohnya masih ngerokok dan minum alkohol sih.

And thank you Nilam, karena berkat buku ini aku jadi mulai semangat baca buku lagi setelah hiatus sekian lama. Semoga di buku selanjutnya bisa lebih bagus lagi sampai-sampai bikin aku nangis (kangen baca buku yang bisa bikin nangis).

Dan tibalah saatnya menebak santakuuuuuu......menurut analisis sayaa....santaku adalah Linda Zunialvi. Kenapa ya? Apakah karena dia menyertakan clue berbunyi "(bukan) jilbab hitam".. sedangkan profil FBnya Linda waktu itu masih pakai jilbab hitam.... hehehe analisis yang dangkal.... tp semoga bener yaaa...

Makasih santa atas bukunya!! Dan mohon maaf krn hr ini ada acara di luar kantor, alhasil posting ini seadanya dr hape, :)

Read More

Thursday, December 19, 2013

Kado dari secret santa

Kado dari santa sudah dataaaaaang. Buku ini sudah tergeletak di meja kantor waktu aku pertama masuk setelah 3 bulan cuti. Ihiyy what a surprise.

Thank you santa. Aku udah selesai baca bukunya dan suka sama ceritanya :)

Untuk riddlenya, hmm... kira-kira siapa ya?

Read More

Sunday, October 27, 2013

[Review] Just One Year (Just One Day #2)

Sekali lagi tulisan Gayle Forman berhasil bikin menye-menye : Just One Day dan Just One Year. Seperti pendahulunya di If I Stay dan Where She Went di mana Gayle memanfaatkan dua perspektif, di buku ini Ia juga menggunakan formula yang sama. Bedanya, Where She Went yang menggunakan sudut pandang si laki-laki ini menjelaskan lanjutan dari cerita If I Stay, sedangkan di Just One Year ini, sudut pandang tokoh laki-laki digunakan utk menceritakan hal yang sama dengan yang ada di Just One Day. Oleh karena itu, penting untuk flashback sejenak ke cerita di Just One Day.

Allyson (Lulu) menghabiskan waktu sehari dengan Willem di Paris. Pagi harinya, Allyson ngga bisa menemukan Willem, seolah Ia menghilang ditelan bumi. Dengan perasaan kecewa, Allyson kembali ke Amerika dan berusaha melupakan lelaki satu ini. Tapi apa daya, ternyata kenangan yang hanya sehari ini membayangi pikiran Allyson. Ia tak dapat melupakan Willem meskipun berbagai cara sudah ia lakukan. Dengan nekat, akhirnya Ia terbang kembali ke Paris untuk menemukan Willem lagi.

Di Just One Year, dari sudut pandang Willem, kita jadi tahu kemana sebenarnya Ia pergi meninggalkan Allyson pagi itu. Dan ternyata, Willem pun tak dapat melupakan kenangan bersama Allyson yang hanya sehari itu sehingga ia berusaha untuk mencari dan menelusuri di mana Allyson tinggal. Sayangnya, Willem mengenal Allyson sebagai Lulu, bukan nama aslinya. Ia tak mengetahui nama belakang, nomor telepon, alamat email, alamat rumah, bahkan ia tak tahu dari negara bagian mana Allyson berasal.

Mengikuti pencarian Willem dari Belanda, ke Mexico, sampai ke India ini membuat kita tahu seberapa dalam arti satu hari bersama Lulu terhadap Willem. Tapi entah kenapa aku gak terlalu suka kemelanlolisan Willem di sini (apa karena ia orang Belanda? -gak ada hubungannya sih). Yang jelas kalo dibandingin sama Adam Wilde, jauh. Hehehe.

Buku ini juga memperkenalkanku pada karya-karya Shakespeare melalui pentas2 yang dilakukan Willem di Paris dan Amsterdam. Untuk penyuka Shakespeare, buku ini bisa jadi merupakan versi YA dari As You Like It dengan Allyson sebagai Rosalind dan Willem sebagai Orlando.

Walaupun menyajikan ending yang sama dengan buku Just One Day, namun buku ini cukup menjawab rasa penasaran dengan apa yang ditinggalkan penuh tanda tanya di buku pertamanya.

Trivia:
-Bali sempat disebut di beberapa bagian di buku ini
-Sempat kaget saat nemuin kata "gratis", ternyata asalnya memang dari belanda
-Adam Wilde muncul loh di buku ini.

Read More

Friday, May 10, 2013

Rapid Fire Questions

Dulu ya waktu masih jaman ngeblog di sapidudunk, sering banget dapet yang namanya tag ataupun award2 gitu. Kadang-kadang semangat, kadang-kadang males. Eh sekarang ternyata kebiasaan ini menular ke para blogger buku juga >,<

Baiklahhhh karena ini namanya PR yang harus diteruskan... saya akan berusaha menjawab 10 pertanyaan wajib berikut ini...

Here we go!
1. nambah atau ngurangin timbunan? 
nambah aja deh. Ngga papa ngga dibaca juga, cuma diliatin udah bikin seneng kok.. heheheh :D
2. pinjam atau beli buku? 
beli. kalo pinjem ngga bisa dipandang dan dikoleksi (dan dipamerin juga). Soalnya dulu pernah tuh pinjem punya Aleetha bukunya yang The Book Thief, ternyata bagus banget...dan sedih karena harus dikembaliin.. :p eh tapi kalo pinjem kadang-kadang juga gapapa sih... 
3. baca buku atau nonton film? 
both of them.
4. beli buku online atau offline? (tobuk yg temboknya bisa disentuh) 
offline karena bisa ngendus-ngendus buku2 (terutama buku bekas) *sniff sniff*. Eh tapi aku sendiri juga punya tobuk online sih, buat bantuin temen-temen yang jauh/males ke toko buku. hehehe (promosi gretong)
5. (penting) buku bajakan atau ori? 
ori sih... (kecuali ebook *ups) 
6. gratisan atau diskonan? 
emmm diskonan aja deh, tapi diskonan yang guedheeee banget.... Dulu aku suka banget memburu gretongan, tapi sekarang udah males. 
7. beli pre-order atau menanti dgn sabar? 
seingetku aku jarang baca buku2 baru terbit.. paling cepet setahun udah terbit baru aku baca.. Jadi, mungkin ngga akan pre order.
8. buku asing (terjemahan) atau lokal? 
sementara terjemahan. lagi jarang baca buku lokal. 
9. pembatas buku penting atau biasa aja? 
penting. 
10. bookmark atau bungkus chiki?
aku pakai pembatas apa aja yang ada di deketku waktu baca buku. :3


Nah karena aku menunda-nunda ngerjain tugas ini...akhirnya ada 6 orang yang ngetag akuuuu 


 Masing-masing orang kasih 5 pertanyaan x 6 orang jadi total 30 pertanyaan. Baiklaaaaaahhhhhhh.... Semoga pertanyaannya ngga susah-susah yaa....
pertanyaan dari Melisa

1. klasik atau kontemporer?
kontemporer
2. baca sambil dengerin musik atau nggak?
engga. kebanyakan baca buku sambil dengerin senandung dengkur suami. 
3. baca sambil duduk atau tiduran?
tiduran.
4. Twilight atau Interview with the Vampire?
TWILIGHT lah.


5. pasti nonton film yang diadaptasi dari buku atau nggak?
ngga pasti. Cuma beberapa aja, takut kecewa soalnya.. 

Pertanyaan dari mba Ratih

6. menandai quote dengan stabilo ato stiker?
ngga pernah nandain quote :D
7. fiksi ato non-fiksi?
fiksi. 
8. baca buku fisik ato e-book?
dua-duanya. I need both of them. 
9. baca buku sambil tiduran + denger radio, tiduran+ngemil, ato tiduran +twitteran? (pilih salah satu)
Tiduran + twitteran :D
10. membaca buku untuk menghibur diri ato untuk menambah luas wawasan?
Menghibur diri.

Pertanyaan dari Annisa M. Zahra

11. Fiksi atau Nonfiksi? 
Fiksi
12. buku yang menurutmu kurang bagus: tetap diselesaikan tanpa skip atau langsung buang? 
langsung ganti ke buku lain (jangan dibuangggg T.T)
13. softcover atau hardcover? 
Kalo lagi mampu beli ya hard :D tapi kalo dikasih soft juga ngga nolak...
14. ebook atau cetak? 
dua-duanya... 
15. Sin-chan atau Kobo-chan?
Hehehe sebenernya ngga ngerti nih pertanyaannya gimana, jarang nonton kartun >,< tapi Kobochan aja deh yang ngga mesum.. :p

Pertanyaan dari Linda

16. Kristen Stewart. Isabella Swan atau Snow White?
Aku belom nonton Snow White... jadi Isabella Swan ajaa.. (yeaaaaa)

17. (di kendaraan umum) baca buku atau melamun?
Baca buku sih. Tapi kalo lagi ngga mood ya mainan twitter atau nge game. 

18. (baca buku) di tempat tidur atau di kursi?
tempat tidur. 
19. (di negeri orang) beli buku murah atau buku langka?
Dua-duanya.... (asal duitnya cukup)

20. Eragon atau The Lord of the Rings?
Lord of the Rings!

Pertanyaan dari Bang Ijul

21. Typo ganggu apa enggak?
Ganggu (tapi ngga serajin bang Ijul yang dicatetin satu-satu :p)

22. Buku disampul sebelum atau sesudah dibaca?
Tergantung tingkat kemalasan dan ketersediaan sampul pada saat itu. 

23. Buku ditandatangani (tanggal dan tempat beli) atau enggak?
Dulu iya. Sekarang engga. Siapa tahu mau dihibahin kan jadi sayang kalo dicoret2in. 

24. Perlu lihat resensi orang atau nggak sebelum beli/baca buku?
Sebenernya bukan resensi sih tapi rating goodreads (ngga sama kan ya? ya?)

25. Sudah punya buku terjemahan, lihat buku asli diobral, beli atau enggak?
Beli! Terus yang terjemahan aku hibahkan ke orang lain. 

Pertanyaan dari Mba Yuniar

26. 5 kriteria memilih buku untuk dibeli/dibaca, urut dari yg paling penting?
a. Genre
b. Penulis
c. Average rating di goodreads
d. Bahasanya apa
e. Sampul

27. Komik atau novel?
Aku suka dua-duanya.. tapi lebih sering novel sih..

28. Buku terjemahan atau buku asli (bahasa asing)?
Kalau terjemahannya bagus, aku ngga masalah.. tapi kadang-kadang baca bahasa aslinya kalo terjemahannya belom terbit.

29. Scribbling notes di halaman2 buku atau buku bersih seperti baru?
bersihhhhh...

30. Baca fanfiction-turned-novel?
engga :D

==============================================
Nah ya selesai juga akhirnya...  sekarang giliran saya untuk mengajukan 5 buah pertanyaan sebagai berikut:
1. punya waktu luang banyak buat beli buku tapi ngga punya duit atau punya banyak duit tapi ngga punya waktu luang buat baca buku? 
2. Ketemu sama penulis bukunya atau ketemu sama pemain film yang meranin tokoh utama di buku favoritmu?
3. Luna Lovegood atau Hermione Granger?
4. Cetakan pertama tapi kondisi jelek atau cetakan terbaru dan kondisinya bagus?
5. Dapet akses ke buku-buku jadul nan langka atau akses ke buku-buku terbaru yang belum rilis? 

Kelima pertanyaan tersebut harus dijawab oleh...... (pilihan yang sulit karena sebagian besar udah dapet giliran semua  )


1. Fibri Ani @ http://bibliotime.blogspot.com/
2. Fenny Herawati Yusuf @ http://mybookstacks.wordpress.com/
3. Dela @ http://bukubukudela.blogspot.com/
4. Apsari @ http://catatanaingeal.blogspot.com/
5. Nike @ http://nike.my.id/

Selamat menikmatiii..
Read More
Powered by Blogger.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

My Favorite

Ana's bookshelf: read

Hetty Feather
Blood Promise
The Giving Tree
Quran / القرآن الكريم
Setelah Aku Pergi
The Little Prince
Before I Fall
Senja Berlalu (Twilight) - Mediator Series Book 6
Ayam dengan Plum
Memoirs of a Geisha
Harry Potter and the Order of the Phoenix
Harry Potter and the Goblet of Fire
The Boy in the Striped Pyjamas: Anak Lelaki Berpiama Garis-garis
Harry Potter and the Deathly Hallows: Harry Potter dan Relikui Kematian
Angels & Demons: Malaikat dan Iblis
Ronggeng Dukuh Paruk
The Kite Runner
The Field Guide
Kira-kira
Bud, Not Buddy


Ana's favorite books »

© 2011 The Cow and her books, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena